Saya dan Blogging: Tentang Apa yang Esensial, dan Mewariskan Gagasan

Sejak mulai blogging sekitar 10 tahun yang lalu, kekonsistenan menulis blog ini up and down banget. Ada masa setahun penuh rajin ngepost tulisan, ada pula yang bertahun-tahun ga pernah ada blog post baru. Kalaupun saya lagi rajin nulis blog, saya nulis postingan paling rajin itu sebulan sekali dua-kali doang.

Saya sendiri, seperti kebanyakan blogger lainnya kayaknya yhaa, ingin banget suatu saat bisa nulis dan nerbitin buku komersil. Sebenernya udah pernah sih, nulis buku antologi, sekali, tapi saya kecewa banget sama penerbitnya jadi gamau saya sebut-sebut lagi itu buku (LOL). Jadi, konsisten menulis di blog adalah salahsatu cara untuk latihan menulis. Tentu saja menulis di blog jauh berbeda dengan menulis buku, kayak tulisan saya sekarang saja anda bisa lihat sendiri yhaa… betapa acak-acakannya gaya bahasa dan cara penulisan-nya. Tapi, somehow, yang saya butuhkan saat ini masih di tahap konsisten menuliskan apa yang ada di pikiran saya, itu aja dulu. One step at a time.

Jadi, kenapa akhirnya muncul spark-spark yang menginisiasi untuk blogging lagi?

Photo by Sarah Dorweiler on Unsplash

Essentialism

Saya pernah berada di situasi dimana saya ingin jadi segalanya, saya ingin bisa segalanya, saya ingin melakukan segala hal, sekaligus. Ingin jadi ibu yang baik ngajarin anak-anak sendiri di rumah, ingin jadi koki handal yang bikin homemade food, ingin jadi ibu-ibu homedecor yang rumahnya selalu kinclong, ingin jadi wanita karir yang remote-working dari rumah. Saya harus bisa semuanyaaa…. But, is it truly possible? Bisa sih, bisa aja, tapi mungkin ‘segalanya’ tadi ga bakal ada yang selesai, at least not well completed.

Yang saya tidak sadari saat itu, we can’t be an expert in every field, we can’t have every material things, nor can we have every possible experience. Kita gak bisa jadi hebat di segala hal, kita gak bisa memiliki segala yang kita mau, juga kita gak mungkin dapat melakukan segala hal sekaligus. Faktanya, we can’t do it all. Kita harus memilih.

Disini, saya menemukan bahwa saya tersesat. Kita, seharusnya fokus hanya pada sesuatu yang perlu kita lakukan. Kita perlu memikirkan apa yang esensial bagi diri kita, apa yang esensial bagi kebahagiaan kita. Dari titik ini, saya menguraikan satu-per-satu, mengidentifikasi hal-hal esensial, yang benar-benar ingin saya lakukan dan sangat berarti bagi hidup saya. And… cut out everything else. Yang kemudian, saya mulai memberikan seluruh kekuatan mental dan emosional saya untuk melakukan hal paling esensial tersebut, untuk menggapai standar kualitas setinggi mungkin. Do less, but do it better.

Jadi, hal apa saja yang kemudian saya temukan esensial bagi hidup saya?

Keluarga, Pendidikan Anak-anak, dan …. Menulis. Saya memilih ketiga hal ini sebagai sesuatu yang layak dilakukan dengan waktu dan energi saya yang terbatas.

Essentialism is not about how to get more things done; it’s about how to get the right things done. It doesn’t mean just doing less for the sake of less either. It is about making the wisest possible investment of your time and energy in order to operate at our highest point of contribution by doing only what is essential.

Greg McKeown, Essentialism: The Disciplined Pursuit of Less
Photo by Green Chameleon on Unsplash

Menulis: Mengkristalisasi Pemikiran, dan Warisan Gagasan untuk Dibaca Anak-anak Kelak

Nah, pertanyaan selanjutnya, kenapa menulis, dan kenapa blogging?

Banyak dari kita terkadang memiliki sebuah ide/pemikiran yang bisa jadi inspiratif untuk oranglain. Bukan hanya pemikiran sih, bisa jadi kebiasaan kita sehari-hari, ide-ide bermanfaat yang tiba-tiba terlintas di pikiran, dan tips-tips sederhana dalam menjalani hidup. Tapi gimana cara bridging the gap antara pemikiran kita ini dengan orang yang membutuhkan-nya? Buat saya blogging adalah jembatan tersebut. Nah, saat kita bagi ide-ide ini melalui blogging, somehow apa yang kita tulis ini mungkin bisa menolong orang yang membutuhkan.

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, Ia akan hilang didalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Pramoedya Ananta Toer

Kristalisasi pemikiran, mengabadikan hal-hal positif dari diri kita untuk menjadi bahan inspirasi bagi orang banyak. Setiap orang memang tidak sempurna, tapi jika setiap dari kita menunggu kesempurnaan untuk menulis dan menginspirasi, maka tentu saja tidak akan ada satu tulisan pun yang diproduksi di dunia ini, ya ga siii?

Tapi… memangnya siapa yang butuh kristalisasi pemikiran kita?

Sederhana, anak kita sendiri membutuhkannya. Bulir-bulir inspirasi yang, bagi kita sih mungkin hanya sekedar ‘curhat’ ya, bagi anak kita bisa jadi apa yang tertuang adalah sebuah warisan gagasan, warisan kebijaksanaan, dari ayah-ibunya. Karena kelak, suatu saat mereka akan menemukan cerita bagaimana ayah-ibunya mengatasi masalah, bagaimana kita menemukan jalan buntu dan menemukan jalan keluar, perjalanan bagaimana kita berusaha belajar untuk mendidik mereka, dan, tentu saja, sebagaimana besarnya kita mencintai mereka. Semua tersirat melalui tulisan-tulisan, yang buat sebagian orang isinya hanya dianggap ‘curhat’.

Well, cukup terpaparkan bagaimana menulis dan blogging menjadi sesuatu yang esensial bagi saya saat ini yhaa. Nah, sebagai bentuk ‘pemaksaan’ agar saya tetap konsisten, saya baru-baru ini gabung di grup Mamah Gajah Nge-blog yang merupakan salahsatu sub-grup dari ITBMotherhood. Setiap bulannya kami punya Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog dengan tema yang berbeda-beda. Tulisan ini pun merupakan salahsatu entry dari tantangan blogging bulan Februari 2021 dengan tema ‘Alasan Kembali Ngeblog’.

Semoga sedikit banyak bermanfaat, mohon maap lho, maklumi aja ya saya memang seserius itu (dunia nyata ataupun maya, LOL), kaku kayak kanebo kering. Terimakasih sudah membaca sampai sini. I appreciate it a lot, seriously

Love, G.

45 thoughts on “Saya dan Blogging: Tentang Apa yang Esensial, dan Mewariskan Gagasan

  1. Salam kenal tehh, saya Yuli SI08. Kesan pertama baca judul teteh, wah serius banget judulnya hehehe. Ehh ternyata teteh juga bahas sendiri soal keseriusan itu di akhir tulisan wkwk. Keren banget teh udah buat antologi. Semoga kita semakin semangat nulis yaa.

  2. Wah, rasanya pasti seneng ya teh, bisa menemukan hal yang esensial dalam hidup. Saya juga pernah pengan semuanya bisa.. tapi ya gak mungkin yaa… Sekarang coba realistis aja, ya salah satunya blogging. Semoga kita makin konsisten nulis ya teeh..

  3. Iya ya, terkadang tau yang mana yg esensial itu karna sudah berproses nyobain banyak hal 😁.

    Salam kenal teh, semangat terus nulisnya

  4. Kayaknya memang ideal banget ya teh kebayangnya, kalo kita bisa jadi ibu yang serba bisa. But yes, it’s impossible. Semakin kita ingin semuanya berjalan, semakin gak akan ada satupun yang selesai. Saya juga pernah ada di tahap tersebut, dan itu sangat-sangat bikin stres 😊

  5. aku suka banget kalimat “kristalisasi pemikiran, mengabadikan hal-hal positif dari diri kita dan bagian “Karena kelak, suatu saat mereka akan menemukan cerita bagaimana ayah-ibunya mengatasi masalah, bagaimana kita menemukan jalan buntu dan menemukan jalan keluar, perjalanan bagaimana kita berusaha belajar untuk mendidik mereka, dan, tentu saja, bagaimana kita mencintai mereka. Semua tersirat melalui tulisan-tulisan, yang buat sebagian orang isinya hanya dianggap ‘curhat’.”
    One of the way to heal juga ya imo hehehe

  6. Hi teh, salam kenal saya Restu TI04. Wah baca tulisan teteh saya jadi tahu konsep yang menarik : esensialisme dan kristalisasi pemikiran. Memang kita harus fokus pada apa yang bisa buat bahagia secara sesungguhnya yaa..semoga tulisannya bisa terus menginspirasi teh. Semangat!

    1. Makasih teeeh, saya jadi semangat nulis baca komentar teteh hehe. Itu pake Block Editor fitur dari WordPress teh, di Block Editor ada pilihan untuk masukin Quote, nanti keluarnya otomatis kayak gitu teh.

  7. Bener banget; musti fokus! Harus milih. Ga mungkin melakukan semua-mua yang kita mau… Ini saya juga baru mulai nyadar belakangan. Trus masih suka lupa 😅 Salam kenal. Saling menyemangati yaaa… 🤗

  8. Halo saya Laksita BM10, salam kenal~
    Aduh sama banget sama saya butuh untuk membuat diri ini konsisten nulis dulu. Aiming for progress not perfection cenah, soalnya saya suka nunda2 nulis dan ngepost kalau dirasa blm ‘sempurna’ kata saya.

    Bahasan tentang essentialism-nya juga mengena banget deh, menginspirasi pertanyaan yg harus saya tanyakan ke diri sendiri utk menggali ‘strong why’.

    Semangaaat semoga kita sama2 bisa makin konsisten setelah gabung di MGN hehe

    1. Halo teh salam kenal jugaa, iyaaa, pasti teteh IIP juga ini yaah, ‘strong why’ teh IIP pisaan heuheu.

      Saling menyemangati yah teh, semoga sama-sama berprogress kita lebih rajin nulis.

  9. Enak banget baca tulisannya teh. Blognya juga clean, sukaaaa . Moga kita bisa konsisten bareng ngeblog yaa teh 🙂

  10. Duh ini nih…impian banget menjadi ibu dan istri ideal yang serba bisa, tapi ya ga mungkin ya huhuhuhu….semoga kita semua bisa selalu ‘waras’ ya teh :). Salam kenal teh, saya Ayu GD 04.

  11. membaca tulisan ini, aku tuh mengangguk-angguk setuju, paparan mulai dari we can’t have it all sampai penjelasan memilih yang esensial dan tidak perlu menunggu sempurna dan mengkristalkan pemikiran, jangan sampai komentarku jadi link ke posting terinspirasi postingan ini, hahaha…

    btw, salam kenal dari sesama mamah gajah, saya Risna IF95

  12. Blognya bersih, tulisannya renyah, isinya bermanfaat.. Terimakasih ya Teh sudah berbagi. Sy jadi dapet 1 kata kunci baru, ‘essensial’. Dan saatnya memilah hal2 yang tidak essensial dan siap untuk disingkirkan..

  13. Salam kenal teh 🙂
    Setuju, meski kesannya terlihat curhat, tapi dari tulisan di blog anak-anak bisa ngeliat ya bagaimana orang tuanya mencintai mereka…

  14. Salam kenal teh.. sepertinya saya sedang dalam kesesatan seperti teteh dulu.. ingin semua serba bisa dan ter-handle.. udah sadar tapi belum mem-break down pikiran..

    Untuk jadi expert memang seperti nya perlu konsisten menulisnya dulu ya.. semoga di MGN ini saya jadi lebih rajin

    Makasih teh inspirasi nyaaa 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s